Kamis, 16 April 2009

Perhitungan Biaya Per Unit (Biaya Pesanan, Biaya Proses, dan Penentuan Overhead Pabrik)

“PERHITUNGAN BIAYA PER UNIT”

Product Costing adalah suatu proses penghimpunan atau akumulasi biaya-biaya yang terjadi di dalam suatu proses produksi dan memasukkannya ke dalam nilai produk akhir perusahaan. Kegunaan product cost:

¨ In Financial Accounting :

yaitu untuk menilai persediaan dan harga pokok penjualan.

¨ In Managerial Accounting :

yaitu sebagai informasi bagi manajer dalam membuat suatu perencanaan, pengawasan, dan pengambilan keputusan.

¨ In Cost Management :

yaitu menyediakan data mengenai biaya-biaya untuk berbagai tujuan manajemen biaya.

¨ In Reporting to Interested Organizations :

yaitu menyediakan data mengenai biaya-biaya bagi pihak luar perusahaan.

Type of product costing:

© Job order Costing (Biaya Pesanan)

Digunakan oleh perusahaan yang memproduksi suatu produk yang tidak sama dalam jumlah yang relatif sedikit. Contoh : furniture, percetakan, dll.

© Process Costing (Biaya Proses)

Digunakan oleh perusahaan yang memproduksi suatu produk yang sama dalam jumlah besar. Contoh : perusahaan makanan, semen, dll.

SISTIM BIAYA PESANAN

Kalkulasi biaya pokok pesanan kerja dilakukan oleh perusahaan yang melaksanakan proses produksi berdasarkan pesanan. Untuk menghitung biaya produksi harus diketahui unsur-unsur dari harga produksi tersebut yaitu biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead.

Prosedur yang menyangkut perkiraan bahan baku meliputi pembelian bahan baku dan penyerahan bahan baku dari gudang ke pabrik. Untuk dapat memindahkan bahan baku dari gudang ke pabrik, supervisi pabrik terlebih dahulu harus mengisi Material requisition form (formulir permintaan barang) yang diperuntukkan kepada dan disetujui oleh supervisi gudang. Sedangkan untuk mengetahui biaya upah diperlukan data mengenai jam kerja buruh dan tarif per jam kerja. Untuk menetapkan biaya overhead dianggap agak rumit, karena adanya sifat-sifat biaya yang terjadinya pada saat tertentu, sehingga tidak dapat dibebankan begitu saja kepada pesanan-pesanan. Di dalam perhitungan biaya overhead diperlukan adanya tarif biaya overhead yang ditentukan di muka atau disebut juga biaya overhead yang dibebankan. Biaya overhead yang sebenarnya, dibebankan kepada perkiraan kontrol biaya overhead.

SISTIM BIAYA PROSES

Penerapan system akuntansi biaya proses yaitu seluruh biaya dikumpulkan per setiap bagian/proses. Karakteristik metode harga pokok proses, yaitu:

1. Biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu

2. Produk yang dihasilkan bersifat homogen dan sifatnya standar

3. Kegiatan produksi didasarkan pada budget produkri/schedule produksi untuk satuan waktu tertentu

4. Tujuan produksi untuk mengisi persediaan yang selanjutnya dijual

5. Kegiatan produksi bersifat kontinyu atau terus-menerus

6. Jumlah total biaya maupun biaya satuan dihitung setiap akhir periode

Dihubungkan dengan pembebanan harga pokok kepada produk, metode harga pokok proses dapat menggunakan system:

a. Semua elemen biaya dibebankan berdasar biaya sesungguhnya (historical cost system). Dimana produk yang diolah dibebani biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dinikmati oleh produk yang bersangkutan.

b. Elemen biaya tertentu yaitu biaya overhead pabrik, dibebankan berdasar tarif

c. atau biaya yang ditentukan dimuka.

Prasyarat penerapan akuntansi biaya menurut proses yaitu mempergunakan system perpectual untuk perkiraan persediaan barang mentah, barang di dalam proses dan barang selesai. Selanjutnya semua pengeluaran ini bergerak melalui Perkiraan Didalam Proses (Work In Process), kemudian dipindahkan ke Perkiraan Harga Pokok Penjualan (Cost Of Good Sold).

Penetapan Nilai Barang Didalam Proses

Penetapan biaya per unit dari suatu departemen ialah dengan cara membagi total biaya dari departemen tersebut dengan unit yang diserahkan ke departemen berikutnya. Tetapi yang menjadi masalah bagaimana jika di departemen tersebut ternyata terdapat produk yang baru diproses sebagian. Perhitungan jumlah biaya yang akan dialokasikan ke departemen berikutnya haruslah terlebih dahulu dikurangi dengan nilai barang-barang yang baru diproses sebagian tersebut.

Guna menetapkan berapa bahan mentah, dan biaya-biaya anatara produk-produk yang telah selesai dan dipindahkan ke departemen berikutnya dengan persediaan barang masih tetap di departemen yang bersangkutan, maka perlu dihitung dan ditetapkan bagaimana bahan mentah dan biaya-biaya lain tersebut dimasukan dalam produksi. Pengalokasian biaya produksi antara unit yang telah selesai dan persediaan barang yang baru selesai sebagian, terlebih dahulu harus ditetapkan:

  • Jumlah “perbandingan unit” (equivalent unit) didalam periode yang bersangkutan
  • Biaya produksi per unit ekuivalent (processing cost per equivalent unit) pada periode yang bersangkutan

Produksi Unit Ekuivalen

Unit Ekuivalen adalah jumlah unit yang seharusnya diproduksi, jika tidak terdapat barang dalam proses baik pada awal atau akhir periode. Sebagai ilustrasi, bahwa suatu departemen tertentu telah mengeluarkan bahan mentah untuk 2.000 unit hasil. Pada akhir bulan telah diselesaikan 80%. Anggaplah bahwa biaya produksi yang dibebankan selama periode tersebut adalah $ 480.000, berarti biaya produksi per ekuivalent $ 300 per unit.

Bagan Sistem Biaya Proses

Berikut ini merupakan bagan system biaya proses dari biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead.

Perbedaan antara Sistem Biaya Pesanan dan Sistem Biaya Proses

Sistem Biaya Pesanan

Sistem Biaya Proses

o Banyak pesanan yang dikerjakan selama periode.

o Biaya-biaya diakumulasi oleh masing-masing pesanan.

o Kartu Biaya Pesanan sebagai dokumen kunci.

o Unit cost dihitung berdasarkan pesanan.

o Produk Tunggal yang dihasilkan selama periode waktu yang panjang.

o Biaya-biaya diakumulasi berdasarkan departemen.

o Department production report adalah dokumen kunci.

o Unit costs dihitung berdasarkan departemen

PEMBEBANAN OVERHEAD PABRIK

Biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya bahan tak langsung, buruh tak langsung dan biaya-biaya pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi atau tujuan biaya akhir. Pendapat ahli lainya menyatakan bahwa biaya overhead pabrik merupakan setiap biaya yang tidak secara langsung melekat pada suatu produk, yaitu semua biaya-biaya diluar biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.

Biaya overhead pabrik mencakup biaya produksi lainnya seperti pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin-mesin. Biaya pabrik seperti pemeliharaan gudang, bahan-bahan dan hal lain yang memberikan pelayanan-pelayanan kepada bagian produksi juga merupakan bagian dari biaya overhead pabrik. Biaya penjualan dan biaya distribusi, dan semua biaya administrasi juga diperhitungkan sebagai biaya overhead sepanjang biaya-biaya tersebut tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan unit produk. Berbagai macam biaya overhead pabrik harus dibebankan kepada semua pekerjaan yang terlaksana selama suatu periode.

Istilah lain yang dipakai untuk overhead pabrik adalah beban pabrik (factory burden), beban pabrikasi (manufacturing expense), overhead pabrikasi, beban pabrik (factory expense) dan biaya pabrikasi tidak langsung.

Overhead pabrik memiliki dua karakteristik yang harus dipertimbangkan dalam pembebanannya pada hasil produksi secara layak. Karakteristik ini menyangkut hubungan khusus antara overhead pabrik dengan:

  1. Produk itu sendiri

Berbeda dengan bahan langsung dan upah pekerja langsung, overhead pabrik merupakan bagian yang tidak berwujud dari barang jadi. Tidak ada surat permintaan bahan ataupun kartu jam kerja yang digunakan untuk menyatakan jumlah overhead, seperti perlengkapan pabrik atau pekerja tidak langsung, yang diperhitungkan untuk pekerjaan atau produk tertentu. Namun overhead pabrik tetap merupakan bagian dari biaya pabrikasi produk sebagaimana halnya dengan bahan langsung dan pekerja langsung. Karena meningkatnya otomasi dalam proses pabrikasi modern, overhead pabrik sebagai persentase dari produk total juga akan meningkat, sementara bagian pekerja langsung menurun.

  1. Jumlah volume produksi

Karakteristik ini menyangkut perubahan biaya karena banyak pos atau unsur overhead terpengaruh oleh perubahan volume produksi; yaitu overhead bisa bersifat tetap, variabel atau semivariabel. Biaya overhead tetap secara relatif tidak berubah meskipun volume produksi berubah dalam rentang yang relevan, sedangkan overhead tetap per unit akan berubah dalam arah yang berlawanan dengan volume produksi. Overhead variabel bervariasi secara sebanding atau sejajar dengan volume produksi, juga dalam rentang yang relevan. Overhead semivariabel bervariasi, tetapi tidak sebanding dengan unit yang diproduksi. Apabila volume produksi berubah, efek gabungan dari berbagai pola overhead yang berbeda ini dapat mengakibatkan biaya pabrikasi per unit berfluktuasi besar, kecuali kalau diusahakan suatu metode untuk memantapkan beban overhead pada unit yang diproduksi.

Suatu hal yang mustahil untuk menelusuri setiap jenis overhead pabrik ke pekerjaan atau produk tertentu sehingga harus dilakukan pengalokasian yang arbiter. Tarif overhead yang ditentukan terlebih dahulu memungkinkan adanya suatu adanya pengalokasian yang sepadan dan logis. Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini:

1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik.

Pengestimasian atau penganggaran biaya untuk setiap departemen produksi dan jasa di pabrik menurut sifatnya seperti kepenyeliaan, perlengkapan listrik dan lain-lain.

2. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.

Pemilihan dasar yang paling tepat untuk menerapkan overhead merupakan suatu hal yang sangat penting karena sistem biaya harus menyediakan data biaya yang cukup tepat dan manajemen juga harus mendapatkan data yang berarti dan bernilai. Oleh sebab itu, tujuan utama dalam memilih suatu dasar adalah untuk memastikan bahwa dalam kaitan manfaat atau hubungan kausal, pembebanan overhead pabrik sebanding dengan pekerjaan, produk atau pekerjaan yang dilaksanakan atau dasar yang dipilih harus berkaitan erat dengan fungsi overhead yang diterapkan tersebut.

3. Menghitung tarif biaya overhead pabrik.

Tarif biaya overhead memungkinkan adanya suatu pengalokasian yang sepadan dan logis. Baik bagi prosedur akumulasi biaya pesanan maupun untuk biaya proses, sistem ini memberikan satu-satunya pilihan terbaik untuk menghitung biaya overhead dengan tepat, guna memenuhi kebutuhan manajemen, mengidentifikasi ketidakefisienan dan untuk meratakan fluktuasi biaya per unit bulanan yang tidak dapat dikendalikan dan terkadang tampak tidak logis.

Dalam departemenisasi biaya overhead pabrik, tarif biaya overhead pabrik dihitung untuk setiap departemen dengan dasar pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen-departemen yang ada. Hal itu dimaksudkan agar dapat diperoleh kepastian/kejelasan tanggung jawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu. Sehingga dengan digunakannya tarif-tarif biaya overhead pabrik yang berbeda untuk tiap departemen akan dapat memberikan ketelitian di dalam penentuan harga pokok produk ada masing-masing departemen yang bersangkutan.

Di dalam menyusun budget untuk kepentingan distribusi biaya overhead pabrik, maka perlu elemen biaya overhead pabrik dikelompokkan, menjadi: 1) Biaya overhead langsung departemen yaitu jenis biaya overhead pabrik yang terjadi atau dapat langsung dibebankan kepada departemen tertentu, dan 2) Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen yaitu jenis biaya overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mudah nantinya di dalam melakukan pengalokasiannya maupun di dalam penghitungan tarif pembebanannya.

KASUS RINGO RAG COMPANY

Perusahaan Ringo membeli bahan kain lap dari 3 sumber, yaitu perusahaan textile, laundry, dan tukang loak. Proses produksi perusahaan ini tidak sulit. Pertama, kain dibeli dari tukang loak yang dicuci dan dikeringkan dalam mesin special. Kain yang sudah bersih dan dibeli dari laundry yang telah dicuci, dipindahkan ke departemen pemeriksaaan (mutu). Disini, masing-masing kain diperiksa dan digolongkan menurut tingkat penyerapan dalam kualitas A, B, atau C, dimana A adalah kualitas terbaik. Perusahaan textile menjual kain yang bersih dan telah digolongkan. Kemudian kain lap dipotong dalam ukuran 1 hingga 1,5 feet. Potongan dari bahan yang terlalu kecil untuk pemotongan selanjutnya atau berlubang atau tidak dapat digunakan lagi akan dibakar. Kain yang dipotong kemudian dikemas dalam 5, 10, 20, dan 50 pon karton.

Harga jual adalah sebagai berikut : (gudang FOB)

Kualitas

Ukuran karton

5 pon

10 pon

20 pon

50 pon

C

$ 0,70

$ 1,30

$ 2,40

$ 5,00

B

0,75

1,40

2,60

5,50

A

0,90

1,70

3,20

7,00

Biaya bahan mentah berbeda untuk setiap sumber. Biaya pada perusahaan textile adalah $ 6.00, $ 5.00 , dan $ 4.00 per cwt untuk kualitas A, B, dan C. 20% dari berat yang dibeli akan terbuang dalam proses pemotongan. Hal ini menunjukkan “factor yang hilang” (kerugian). Bulan sebelumnya, jumlah yang dibeli dari perusahaan textile adalah sebagai berikut :

Kualitas A 43.750 pon

Kualitas B 25.000 pon

Kualitas C 6.250 pon

Biaya laundry adalah $ 3,00 per cwt. Pengalaman masa lalu menunjukkan kerugian sebesar 33,33%. Hasil rasio dari bahan yang berasal dari laundry adalah ¼ untuk kualitas A, ½ untuk kualitas B, dan ¼ untuk kualitas C. Bulan sebelumnya Ringo membeli 60.000 pon bahan dari laundry.

Kerugian tertinggi terjadi pada bahan yang dibeli dari tukang loak, yaitu sebesar 50%. Biaya bahan dari tukang loak adalah $ 1,00 per cwt. Bulan sebelumnya, perusahaan membeli 50.000 pon dari sumber ini. Dari bahan ini biasanya menghasilkan kain lap sekitar 1/5 kualitas A, 2/5 kualitas B, dan 2/5 kualitas C. Untuk kain yang dibeli dari tukang loak dan laundry, sekitar ½ dari kerugian keseluruhan berasal dari penggolongan dan ½ dari pemotongan.

Perusahaan mempekerjakan 25 orang wanita dalam 3 depertemen. Masing-masing mereka dibayar $ 1,1 per jam. Bulan sebelumnya, kartu jam kerja mengindikasikan bahwa waktu yang mereka habiskan adalah sebagai berikut :

Penggolongan 1.000 jam

Pemotongan 3.000 jam

Pengepakan 600 jam

Total 4.600 jam

Bulan sebelumnya, produksi dan penjualan (dibersihkan, dipotong, dan dikotakkan), dalam pon adalah :

Kualitas

Produksi

Penjualan

Pon

$

A

50.000

50.000

7.750

B

50.000

50.000

6.500

C

25.000

25.000

3.125

Total

125.000

125.000

17.375

Dua mandor dipekerjakan dalam perusahaan, masing-masing bibayar $7.500 per tahun. ¼ dari waktu mereka dihabiskan untuk mengisi dan mengeluarkan muatan pada pencucian dan pengeringan. ¼ lagi untuk memindahkan kotak yang sudah dipak ke gudang untuk pengiriman. Dan sisanya untuk mengawasi dan memeriksa pekerjaan pekerja wanita.

Dua set alat pencucian dan pengeringan yang dimiliki perusahaan mempunyai depresiasi lebih dari 5 tahun dalam metode garis lurus. Masing-masing alat memiliki kapasitas 100 pon per muatan dan dapat berputar sebanyak 16 kali muatan selama satu hari kerja.

Beban-beban selain bahan mentah dan tenaga kerja dalam seahun adalah :

Depresiasi

$ 3.060

$ 760 pencucian dan pengeringan, $ 300 mesin pemotongan, $ 2.000 untuk 2 mobil

Natural gas

600

Digunakan untuk pengeringan

Listrik

480

¾ untuk pencucian dan pengeringan, ¼ untuk pemotongan

Sewa

3.200

Sewa guna gudang*

Deterjen (untuk mencuci)

1.000

Bookkeeper/sekretaris

4.100

BBM (untuk mobil)

400

$ 0.01 per mile

Akomodasi (tempat menginap dan makanan)

6.000

½ untuk pembelian, ½ untuk penjualan

Karton pengepakan

7.200

5 dan 10 pound kotak @ $ 0.07; 20 dan 50 pon kotak @ $ 0,10

Beban lain-lain

1.200

(*) ¼ untuk penyimpanan kain lap yang tidak diproses (rata-rata pembelian 1 bulan), ¼ untuk penyimpanan kain lap yang dikotak (1 bulan penjualan), ¼ untuk pemotongan, 1/8 untuk penggolongan dan pembersihan, 1 ruangan dipakai untuk kantor yang tidak dihitung pada penggunaan gudang.

Pertanyaan :

Hitung kontribusi margin dan laba biaya penuh untuk masing-masing dari 5 sumber pembelian yang berbeda (rongsokan/junk, laundry, tex. A, tex, B, tex. C). Langkah-langkahnya :

A. 1. Hitung pendapatan rata-rata per pound berdasarkan penggolongan.

2. Hitung pendapatan rata-rata tertimbang per pound untuk setiap 5 sumber pembelian.

3. Hitung biaya bahan mentah per pound yang terjual, untuk masing-masing sumber.

4. Hitung biaya tenaga kerja langsung per pound yang terjual untuk : a. Penggolongan

b. Pemotongan

5. Hitung biaya pengepakan (tenaga kerja dan bahan) per pound yang terjual.

6. Hitung overhead variable per pound yang terjual untuk sumber barang rongsokan/junk source.

7. Item 1-6 menggambarkan kontribusi laba pada sumber pembelian.

8. Tentukan biaya overhead tetap untuk setiap 5 sumber pembelian.

Tentukan biaya khusus untuk sumber yang berasal dari barang rongsokan.

Tentukan seluruh biaya overhead dari ke-5 sumber.

Bagilah dalam penjualan per pound untuk mendapatkan overhead tetap per pound.

9. Item 1-3 menggambarkan laba biaya penuh dari berbagai sumber.

B. Apa yang harus dilakukan manajemen?

1. Seberapa pentingkah perusahaan menggunakan bermacam-macam sumber yang optimal?

2. Dapatkah Anda menghitung keuntungan dengan penggolongan? Apakah ini merupakan informasi yang bermanfaat?

3. Apa rekomendasimu mengenai seluruh penjualan kain lap dari barang rongsokan yang dibersihkan, dipotong, dan di pak sebagai kualitas C, tanpa disortir?

4. Apa rekomendasi lain yang Anda miliki untuk Mr. Ringo?

5. Sebagai suatu penilaian secara keseluruhan, apakah bisnis ini benar-benar membutuhkan bantuan Anda atau tidak?

Petunjuk : dapatkah Anda mengestimasi ROA (Return On Assets) untuk bisnis ini?

PEMBAHASAN (unpublished)

2 komentar:

  1. yang terbaik, gak harus sempurna....

    BalasHapus
  2. pembahasan nya kenpa tdk dipublish jg/?

    BalasHapus